SEKILAS INFO
  • 4 minggu yang lalu / http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/10/19/haedar-nashir-membuat-saya-malu/
  • 6 bulan yang lalu / Lelang Alas Sujud DKM Masjid Al-Mujahidin Kukusan Telah Terpenuhi, Maka Lelang Alas Sujud Ditutup. Bagi jamaah yang akan berinfak kami alokasikan untuk kegitanan lainnya.
  • 6 bulan yang lalu / Pawai Ramadhan Masjid Al Mujahidin. Sabtu, 4 Mei 2019 Mulai Ba’da Maghrib.
WAKTU :

Sejarah

Suasana kampung yang tenang dan nyaman dipenuhi pohon-pohonan rimbun dan hamparan semak belukar, merupakan salah satu ciri kampung yang terletak di ujung utara propinsi Jawa Barat dan berbatasan langsung dengan Jakarta itu. Suara azan terdengar nyaring dari sebuah masjid yang sederhana. Sejenak terdengar suara orang yang melaksanakan shalat berjamaah.

Imamnya berganti-ganti antara Haji Mustofa dan Mahmud, dan beberapa imam yang lain. Biasanya setelah shalat magrib berjamaah, diikuti dengan kegiatan membaca Al-Qur’an yang diikuti oleh anak-anak. Riuh rendah suara mereka belajar mengaji, diselingi dengan tawa cekikikan dan bentakan sang ustadz.

Begitulah suasana sehari-hari di kampung Kukusan yang sepi dan jauh dari keramaian itu. Suasana keagamaan sangat kental mewarnai kampung itu. Rasa kekeluargaan dan silaturahim sangat kentara sekali. Lebih-lebih masyarakat Kukusan pada masa itu hampir seluruhnya penduduk asli yang satu sama lain saling berhubungan famili dan kekerabatan.

Suatu ketika suasana yang indah tadi sedikit terganggu dengan terjadinya suatu peristiwa. Haji Mustofa tidak diizinkan menjadi imam di masjid. Konon kabarnya hal itu disebabkan lantaran Haji Mustofa tidak setuju dengan rencana kedatangan seorang guru yang yang bergelar habib yang sangat di kultuskan, yang diundang ke masjid itu.

Peristiwa itu sangat mengecewakan Haji Mustofa yang juga akrab disebut Haji Gambek itu. Bersama beberapa temannya dan dengan dukungan penuh dari seorang pemuda yang bernama Mutholib Usman, didirikanlah sebuah masjid baru di sebelah barat kampung Kukusan, agak jauh dari masjid yang disebutkan pertama tadi. Sejak itulah di Kukusan dikenal ada pihak wetan dan pihak kulon.

Pihak wetan merupakan pihak yang teguh dengan paham tradisionalis, sedangkan pihak kulon secara berangsur berkembang menjadi Islam yang berfaham modernis. Yang patut disyukuri, perbedaan paham itu tidak berkembang menjadi pertentangan fisik. Bahkan tali silaturahim dan kekeluargaan antara warga kampung tetap terjalin dengan baik.

Tidak ada catatan yang pasti kapan didirikannya masjid itu. Tetapi diperkirakan sekitar tahun 1935-an. Sepeninggal Haji Mustofa, kepengurusan masjid itu dilanjutkan oleh Mutholib Usman. Masjid itulah yang merupakan cikal bakal Masjid Al-Mujahidin Kukusan, setelah beberapa kali mengalami renovasi dan pindah lokasi. Dari masjid yang sederhana itulah faham Muhammadiyah mulai bersinar, dan semakin lama semakin terang dan semakin berkembang.

Sekitar tahun 1950, bangunan masjid yang terletak di ujung barat Kukusan itu, dipindahkan ke lokasi masjid yang sekarang ini.
Dalam perkembangannya, masjid Al Mujahidin telah beberapa kali mengalami penggantian Kepengurusan DKM. Kurun pertama dipimpin oleh (alm) KHM. Usman, periode ke-2 dipimpin oleh (alm) H. Muhammid Syarun, periode ke-3 dipimpin oleh Bapak Dedy Suhadie. Pada periode sekarang ini (2013-2017) kepengurusan DKM dipimpin oleh H. Zaenal Abidin, S.Ag sebagai Ketua, Zaenal Bastari sebagai Sekretaris dan Berlin Mulyadi sebagai Bendahara
RENOVASI MASJID AL-MUJAHIDIN.

Pada tahun 1974 masjid sederhana yang berukuran 9 x 6 M itu dipugar secara besar-besaran. Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1393, bertepatan dengan tanggal 4 Januari 1974.

Peresmian dilaksanakan pada awal tahun 1975 dengan penandatangan prasasti oleh Bupati Kabupaten Bogor, H. Ayip Rughby. Kata orang, bentuk masjid yang baru dibangun itu mirip gedung pertemuan, karena tidak memiliki kubah dan menara.

Pada tahun 1995 masjid Al-Mujahidin kembali di pugar dengan struktur besi baja tanpa tiang tengah, dengan kubah berbentuk bangunan joglo. Badan masjid menggunakan konsep ruangan terbuka tanpa dinding pembatas.

Pada tahun 2010 dipandang perlu untuk merenovasi kembali masjid Al-Mujahidin. Struktur bangunan berupa kap besi dan konsep ruangan terbuka tetap dipertahankan. Renovasi difokuskan pada perluasan bangunan masjid, pelapisan batu granit pada dinding dan tiang/ balok masjid, penggantian atap bangunan utama, pengecoran talang beton disekeliling masjid, renovasi kubah dan pembuatan bangunan menara masjid.